Wednesday, March 08, 2006

Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup

Judul Buku : Kubik Leadership : Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup

Penulis : Farid Poniman, dkk

Penerbit : Hikmah (Mizan (Grup)

MENINGKATKAN KERJA IKHLAS

Semua manusia akan rusak, kecuali orang yang berilmu.

Orang yang berilmu pun akan rusak, kecuali orang yang beramal.

Orang yang beramal pun akan rusak, kecuali yang ikhlas.

Al-Ghazali

Ini kisah pada masa Nabi Muhammad. Di sebuah sudut pasar kota Madinah ada seorang pengemis buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai Saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya."

Tiada lain yang dilakukan si buta setiap hari kecuali menengadahkan tangan dan meneriakkan kata-kata itu. Namun demikian, setiap pagi selalu ada seorang pria yang mendatangi pengemis itu dengan membawakannya makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun, pria itu selalu menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis buta itu.

Suatu ketika, pria yang biasanya datang memberinya makan tidak lagi datang kepadanya. Pengemis buta itu semakin hari semakin lapar dan bertanya-tanya dalam dirinya apa yang terjadi dengan pria itu. Hingga suatu pagi ada seorang pria yang mendatanginya untuk memberinya makan. Namun ketika dia mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu? Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku."

"Aku adalah orang yang biasa," kata pria itu.

"Tidak mungkin. Engkau bohong. Orang yang biasa mendatangiku itu, sebelum ia menyuapiku, dia selalu mengusap rambutku terlebih dahulu, kemudian menghaluskan makanannya sehingga tidak sulit mulut ini mengunyah," jawab pengemis buta itu.

Mendengar jawaban itu, pria tadi tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang mulia yang biasa memberimu makan itu telah meninggal dunia. Dia adalah Muhammad."

Pengemis buta itu terkejut. Tubuhnya tergetar. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya ada air mata yang mengalir di pipinya.

Kemuliaan Muhammad terlihat dari keikhlasannya yang luar biasa. Bahkan kepada orang yang selalu mencacinya, dia tidak berhenti membantu dan memberikan kebaikan. Kita semua bisa menjadi mulia. Untuk meraih kemuliaan hidup tersebut, kita memulainya dari rasa ikhlas. Ikhlas atau keikhlasan adalah sifat dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia baik sebagai karyawan, pengusaha, pemimpin negara, guru, dosen, mahasiswa, orangtua, anak muda, siapa pun juga. Keikhlasan kita adalah yang memberikan nilai atau bobot pada apa pun yang kita kerjakan. Dalam Kubik Leadership, keikhlasan diri kita harus kita manifestasikan dalam bentuk aktivitas nyata, yaitu kerja ikhlas.

Dalam bab ini, saya akan menguraikan bagaimana cara Anda bisa memulai menjadi pekerja ikhlas. Secara definisi kerja ikhlas adalah bentuk usaha terarah dalam mendapatkan sebuah hasil dengan menggunakan kesucian hati sebagai manifestasi kemuliaan dirinya. Kesucian hati adalah modal utama seorang pekerja ikhlas, sama halnya dengan mesin kecerdasan menjadi modal utama pekerja cerdas. Muhammad memiliki keikhlasan yang luar biasa karena kesucian hatinya yang juga luar biasa. Orang yang ikhlas adalah orang yang hatinya bersih. Tidak ada sedikit pun energi negatif atau kesia-siaan dalam aktivitasnya bekerja, yang ada hanya energi positif.

Bila kita ibaratkan, para pekerja ikhlas seperti halnya wadah besar yang siap menampung apa pun sehingga orang-orang yang ikhlas selalu tampak siap menampung pekerjaan-pekerjaan besar. Pekerja ikhlas itu seperti lautan yang siap menampung apa pun yang dikirim kepadanya. Lautan mampu menampung aliran air dari berbagai sungai yang ada di muka bumi. Tak peduli apakah air sungai itu jernih, kotor dan membawa limbah industri, laut siap menampung tanpa pernah memilih. Di lautan, semua itu akan menjadi bersih kembali. Dengan bantuan matahari, air laut pun kembali menguap dibawa angin dan kemudian menjadi hujan dan mengairi kembali tanah-tanah yang membutuhkan siraman air hujan.

Dalam keadaan apa pun, air laut tetap jernih dan tak berubah warna. Begitu bersihnya laut, maka segala sesuatu yang berasal dari laut boleh dimakan, bahkan bangkai ikan di laut pun halal. Begitu pula para pekerja ikhlas, walau ia mendapat hal-hal yang negatif ia tetap akan jernih dan bersikap positif kepada siapa pun., Keburukan dan hal-hal negatif yang menimpa pekerja ikhlas tak akan sanggup mengubah warna kehidupannya. Energi positifnya begitu besar sehingga tidak ada sedikit pun energi yang mampu masuk.

Semua orang bisa bekerja secara ikhlas, bahkan pada orang atheis sekalipun. Hal itu disebabkan karena di dalam diri setiap manusia ada mesin nurani yang selalu mendorong manusia untuk berbuat kebaikan. Walaupun demikian, nilai ikhlas bagi orang yang beragama jauh lebih tinggi, karena kekuatan keikhlasannya dia kaitkan pada Tuhan Sang Maha Sumber Epos. Sehingga dengan keikhlasannya, dia akan mampu untuk mengakses energi yang lebih besar. Selain itu, keikhlasan orang yang beragama mendapat dua nilai, yaitu nilai yang mendapat balasan di duni adan yang dibalas berlipat ganda di akhirat.

Pekerja ikhlas seperti lautan yang siap menampung apa pun yang dikirim kepadanya. Lautan mampu menampung semua aliran sungai tak peduli apakah jernih, kotor atau membawa limbah industri. Laut akan membuatnya menjadi bersih kembali.

Singkatnya, ketika Anda telah menjadi pekerja ikhlas dengan tingkat keikhlasannya tinggi, maka Anda akan memiliki kapasitas diri yang besar, yang ditunjukkan dengan kemampuan Anda dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dan menyelesaikan masalah-masalah besar. Selain itu Anda akan dikaruniai kejernihan pandangan sehingga mampu membuat keputusan yang tepat setiap saat. Anda juga akan senantiasa mendapatkan keberuntungan-keberuntungan besar dalam hidup, sehingga hal-hal yang bagi kebanyakan orang tidak mungkin, bagi Anda adalah keniscayaan. Terakhir, hidup dan keberadaan Anda akan mampu memberikan manfaat yang besar bagi orang-orang di sekitar Anda dan menjadikan Anda manusia mulia.

Cara Meningkatkan Kerja Ikhlas

Setiap orang bisa bekerja ikhlas. Namun demikian, ada empat langkah yang harus Anda lakukan untuk menjadi seorang pekerja ikhlas sejati. Lakukan keempat langkah ini secara berurutan. Ingatlah, kerja ikhlas berbeda dengan menyerah. Kejra ikhlas butuh energi dan upaya yang terarah. Anda harus aktif menunjukkan keikhlasan Anda. Keempat langkah itu adalah:

Langkah 1: Bersihkan Wadah

Wadah yang dimaksud di sini adalah kerja keras dan kerja cerdas yang dilakukan sebelum seseorang melakukan kerja ikhlas. Anda tentu ingat bahwa sebelum seseorang melakukan kerja ikhlas, maka dia harus melakukan kerja keras dan kerja cerdas terlebih dahulu. Nah, kerja keras dan kerja cerdas seseorang tersebut menjadi wadah untuk aktivitas kerja ikhlasnya. Makin besar wadahnya, makin besar pula dampak kerja ikhlasnya.

Membersihkan wadah berarti menghilangkan semua unsur energi negatif yang ada pada aktivitas kerja keras dan kerja cerdas kita. Dalam aktivitas kerja keras dan cerdas, sering kali kita masih memiliki unsur energi negatif. Misalnya, pada saat kita bekerja keras menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kita hingga malam hari, kita sering tidak menghiraukan keinginan anak istri kita untuk bisa bersama-sama dengan kita. Egoisme kita saat itu adalah energi negatif yang menyertai kerja keras kita. Ketika kita melakukan kerja cerdas dengan membina bawahan secara baik, sering kita lakukan yang terbaik karena kita berharap mendapatkan pujian dari atasan, rekan kerja atau bawahan kita. Keinginan untuk dipuji adalah sifat riya yang merupakan energi negatif yang menyertai kerja cerdas kita.

Semua energi negatif yang menyertai aktivitas kerja keras dan kerja cerdas kita itu layaknya kotoran yang menempel pada wadah kerja ikhlas kita. Para pekerja ikhlas adalah mereka yang selain berupaya mengurangi atau bahkan menghilangkan semua hal yang bisa merusak baik pikiran maupun kalbunya. Wadah yang kotor akan menyebabkan apa pun yang masuk ke dalam wadah itu menjadi kotor dan rusak.

Wadah yang bersih akan lebih menjamin bahwa yang tertampung di wadah bisa bertahan lama dan tidak mudah rusak. Pekerjaan yang diberikan kepada orang yang bersih akan berpeluang lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kebersihan pikiran dan kalbu. Para pekerja ikhlas adalah mereka yang bersih dan tidak memiliki kotoran-kotoran pikiran dan kalbu sehingga ia jarang mengeluh, tidak akan lari dari tanggung jawab, dan tidak berkhianat bila mendapat suatu kepercayaan.

Sewaktu Walt Disney mengajukan proposal Disneyland kepada bank-bank di Amerika Serikat, ia ditolak 302 kali. Tetapi ia tidak putus asa, mengeluh atau menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Energi positifnya mendorong dia memperbaiki proposalnya, terus berjuang dan akhirnya mampu mewujudkan Disneyland sebagai sebuah tempat hiburan terkenal di dunia.

Agar kita mampu membersihkan kotoran yang merusak wadah maka kita perlu mengetahui jenis-jenis kotoran yang merusak wadah. Di bawah ini saya uraikan kotoran-kotoran yang dapat merusak wadah. Sebenarnya jumlah kotoran yang ada sangat banyak, tapi dalam pembahasan ini saya uraikan 12 kotoran saja yang saya anggap dapat mewakili. Kedua belas kotoran tersebut saya kelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu; (a) kotoran yang merusak keyakinan; (b) kotoran yang merusak tata aksi; (c) kotoran yang merusak pekerti.

a. Kotoran yang merusak keyakinan

1. Ingkar

Orang yang ingkar adalah orang yang menolak kebenaran yang sampai kepadanya. Kebenaran dikalahkan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Kasus lahan gambut sejuta hektar di awal tahun 1990-an di Kalimantan bisa dijadikan contoh. Berdasarkan hasil kajian yang mendalam lahan tersebut tidak layak dijadikan sebagai lahan pertanian. Akan tetapi karena keinginan segelintir orang, proyek tersebut dipaksakan dan akhirnya menuai kegagalan.

Banyak pintu kebaikan menjadi tertutup terhadap orang-orang yang ingkar sehingga menghalangi atau mengurangi peluang seseorang untuk berbuat epos. Sifat ingkar akan menyebabkan lambatnya atau terhalangnya pertambahan ilmu. Sifat ingkar sangat merugikan bagi yang menyandangnya.

2. Angan-angan

Angan-angan adalah bentuk dari meningginya To Have. Orang yang terlalu berangan-angan terhadap harta bisa terjebak kepada penyalahgunaan wewenang, memeras harta rakyat, dan juga bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta yang ia inginkan. Kasus-kasus korupsi, pembobolan bank, nasabah yang ngemplang adalah buah dari panjangnya angan-angan para pelakunya.

Seseorang yang panjang angan-angan memiliki dorongan kuat untuk menumpuk harta secara instan bahkan dengan cara merugikan orang lain sekalipun. Orang yang tinggi angan-angannya akan mudah menghalalkan segala cara. Dia akan selalu merasa kurang dalam hidup.

3. Sombong

Orang yang sombong adalah orang yang merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain. Al-Ghazali merinci hal-hal yang bisa menyebabkan orang menjadi sombong, yaitu: ilmu, ibadah, amal, keturunan, kecantikan atau ketampanan, kekayaan, kekuasaan atau kekuatan, memiliki banyak pengikut atau keluarga. Orang sombong cenderung memandang rendah orang lain, menganggap dirinya yang paling benar, bahkan bertindak semena-mena pada orang lain.

Karena kesombongannya, Raja Ramses (Fira'un) mengaku sebagai Tuhan. Ia merasa mampu menghidupkan dan mematikan rakyatnya. Rasa sombong menganggap Bangsa Aria adalah bangsa yang paling hebat di muka bumi menjadikan Adolf Hitler melakukan genocide terhadap jutaan umat manusia. Rasa sombong karena merasa sebagai polisi dunia, mendorong Amerika Serikat melakukan intervensi di berbagai negeri di dunia.

4. Dengki

Orang yang dengki adalah orang yang membenci orang lain ketika orang lain tersebut memperoleh kesenangan dan kenikmatan, dan mengharapkan agar kesenangan dan kenikmatna yang diperoleh seseorang tadi segera lenyap dari orang lain tersebut. Sebenarnya sifat dengki akan menyiksa diri pemilik sifat itu sendiri. Ia akan merasa sakit hati berkepanjangan, menanam benih permusuhan, dan juga dapat menghapus kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Marxisme dibangun di atas landasan kedengkian terharap para pemilik kapital dan tuan-tuan tanah sehingga menimbulkan pertentangan kelas, permusuhan, dan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang yang kurang mampu membenci orang kaya. Sebaliknya orang-orang kaya selalu merasa khawatir hartanya berkurang karena diambil oleh orang-orang yang miskin.

b. Kotoran yang merusak tata aksi

5. Riya

Orang yang riya melakukan sesuatu karena mengharap pujian dari orang lain. Bila pujian berhenti dia pun berhenti melakukan pekerjaan itu. Dia berbuat karena ada pihak luar yang melihat dan menyaksikan. Bila ia berbuat kebaikan maka ia berharap mendapat pujian dan sanjungan. Sebaliknya bila ia berbuat kesalahan ia akan segera mencari kambing hitan dan lepas tanggung jawab.

Riya itu ada beberapa macam yaitu; (a) riya fisik, (2) riya dalam berpakaian, (3) riya dalam perkataan, (4) riya dalam beramal. Riya fisik misalnya menampilkan fisik yang lemah dan lesu agar kelihatan bahwa ia sedang mengalami problem atau sedang berpuasa. Contoh riya dalam berpakaian misalnya ia memamerkan busana termahal agar dia terlihat sebagai orang yang mapan dan terhormat.

6. Merusak

Orang yang merusak adalah orang yang berusaha menjauh dari Sumber Energi. Kesenangannya adalah membuat kerusakan di muka bumi. Di antara golongan orang yang membuat kerusakan antara lain: penguasa yang sewenang-wenang terhadap rakyatnya, pemimpin yang menindas yang dipimpinnya, orang yang selalu melanggar hak-hak orang lain, orang yang selalu menyalakan api permusuhan.

Sifat yang merusak ini telah menyebabkan jutaan hutan gundul karena praktik illegal logging, PLN yang terus-merugi karena banyak pencurian arus listrik, hilangnya devisa negara karena penyelundupan dan praktik-praktik merusak lainnya.

7. Egois

Orang yang egois adalah orang yang hanya memikirkan diri sendiri. Dia tidak peduli pada nasib orang lain. Kecerdasan emosionalnya rendah. Dia tidak disenangi banyak orang. Bila berbicara ia tak peduli dengan pearsaan orang lain. Bila ada pembagian sesuatu ia mementingkan dirinya sendiri. Ia tak pernah berpikir bahwa perbuatannya menyebabkan banyak orang yang dirugikan.

Pemimpin perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan dan masyarakat sekitar adalah pemimpin yang egois. Ia hanya memburu keuntungan semata. Pemimpin seperti ini pasti tidak memikirkan program corporate social responsibility bagi masyarakat sekitar. Dalam kehidupan bermasyarakat ia jarang terlibat aktif. Rumah tempat tinggal hanya dijadikan seperti hotel, tempat menginap dan istirahat belaka. Orang-orang egois juga tidak menyukai kerja tim, ia ingin semua dikerjakan sendiri.

8. Tamak

Tamak adalah cinta yang berlebihan terhadap harta. Cinta yang berlebihan terhadap sesuatu menyebabkan nurani menjadi buta dan tuli. Kasus Enron yang memanipulasi laporan keuangan mencerminkan ketamakan direksinya terhadap harta yang akan diperoleh. Pada Desember 2001, Enron dinyatakan bangkrut. Hutangnya mencapai 40 miliar dolar Amerika.

Pada 1849, orang kulit putih Amerika dengan ketamakannya mengusir para Indian dengan tujuan merebut hak atas tambang emas di sana. Ribuan orang Indian dibunuh, diambil alih tanahnya atau diusir. Akibat ketamakan itu, alam lingkungan California mengalami kerusakan hebat. Sungai dan kolam air tercemar merkuri hingga 7.600 ton. Di masa itu bandit merajalela. Semua orang di California terobsesi menjadi kaya, hingga keluarga dan kesehatan lingkungan pun terabaikan.

c. Kotoran yang merusak pekerti

9. Putus asa

Orang yang berputus asa adalah orang yang tidak sabar dalam menghadapi ujian hidup. Ia lemah mentalnya. Ia tidak mengambil pelajaran dari kegagalan yang pernah dialaminya. Padahal seseorang yang mendapat ujian hidup sebenarnya sedang mengurangi energi negatif di dalam dirinya atau sedang mendapat down payment yang kelak hasilnya akan dia panen.

Orang yang memahami realitas kehidupan secar mendalam pastilah menyadari bahwa kehidupan ini terkadang naik terkadang turun. Tatkala sedang naik, kita harus mengeluarkan energi ekstra untuk mendakinya. Ketika sedang menurun kita harus mengerem langkah kita agar tidak terperosok ke jurang. Untuk itu kita tak boleh cepat menyerah. Ingatlah pesan Paul J. Meyer: "Sembilan puluh persen orang yang gagal sebetulnya belum tentu gagal, hanya saja ia cepat menyerah."

10. Cepat puas

Paul G. Stolz dalam bukunya Adversity Quotient membagi orang ke dalam tiga kelompok; quitters, campers, dan climbers. Mereka yang disebut quitters adalah orang-orang yang menghindari kewajiban, memilih untuk keluar, mundur dan berhenti. Mereka menghentikan pendakian, kemudian langsung kembali turun begitu ada hambatan datang. Sedangkan campers adalah orang yang mendaki tidak seberapa jauh, lalu berkata, "sejauh ini sajalah saya mendaki, saya akan berkemah di sini, toh di sini juga sudah cukup tinggi."

Mereka mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat datar yang rata dan nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat. Mereka memilih menghabiskan sisa-sisa hidup mereka dengan duduk-duduk di situ. Mereka adalah orang-orang yang cepat puas. Orang-orang yang cepat puas tidak akan pernah tahu kedahsyatan penciptaan Tuhan dilihat dari puncak gunung tertinggi. Oleh sebab itu, jadilah seorang climbers, ia selalu berusaha untuk mendaki dan terus mendaki hingga puncak tertinggi.

11. Pelit

Pelit adalah ketidaksediaan seseorang berbagi harta untuk menambah energi positif. Sikap pelit tidak harus ditujukan pada orang lain. Seseorang bisa pelit terhadap dirinya sendiri. Orang yang memilih makan sediki thanya dengan nasi dan tempe, padahal ia mampu membeli makanan yang layak adalah orang yang pelit terhadap dirinya sendiri. Sifat pelit ditimbulkan karena kecintaan yang berlebihan terhadap harta. Dia lebih senang menimbang harta daripada menggunakan hartanya untuk kebaikan.

Menurut para ahli hikmah, orang yang tercela adalah orang yang tidak henti-hentinya mengumpulkan harta untuk ahli warisnya, sementara dia sendiri enggan menggunakannya untuk menebar energi positif. Orang seperti ini laksana anjing berburu yang menahan diri untuk memangsa, sedangkan dia melilit binatang buruannya agar orang lain dapat memakannya. Padahal boleh jadi harta yang ia tinggalkan justru akan menjadi sebab perpecahan bagi para ahli warisnya.

12. Malas

Orang yang malas adalah orang yang tidak melakukan sesuatu atau paling tidak menunda-nunda pekerjaan padahal sebenarnya ia mampu mengerjakannya. Par pemalas mengharapkan output yang besar tanpa mau melakukan pengorbanan yang besar, tanpa mau ada risiko, tanpa mau kerja keras. Dalam meraih 4-TA cenderung menempuh jalan singkat, cepat, dan instan walau mungkin harus melanggar hak-hak orang lain. Ia mungkin mengambil jalan pintas meningkatkan kualitas hidupnya dengan cara berjudi, pergi ke Gunung Kawi, dan cara-cara merusak lainnya.

Bila Anda seorang juara dalam salah satu cabang olahraga, namun setelah kompetisi berakhir Anda malas berlatih, apakah dalam kompetisi berikutnya Anda mampu mempertahankan gelar? Jawabnya pasti tidak. Begitu juga dalam kehidupan nyata, bila kita malas beraktivitas, malas berpikir, malas bertindak, dan malas meningkatkan valensi, maka dalam jangka waktu tertentu Anda akan terlindas zaman.

No comments:

Post a Comment