Tuesday, January 24, 2006

asisi


asisi

aku ingin menolong daripada ditolong
aku ingin memberi daripada diberi
aku ingin mencintai daripada dicintai

karena dengan menolong aku ditolong
karena dengan memberi aku diberi
karena dengan mencintai aku dicintai
dan dengan mencintaiMu..
aku hidup abadi

iip wijayanto

bukan cinderella


perjalanan mencintai

mencintai lawan jenis itu wajar kok, klo ngga malah ngga normal namanya. :D
tidak seperti sang cinderella, seorang putri yang langsung menemukan pangeran dan terus hidup bersama hingga akhir hayatnya.

hmm... ternyata beda kisah .. ^_^

tapi..
dengan begitu banyak kita mencintai, kita bisa mengerti apa arti cinta sebenarnya.
mengerti akan sebuah pengorbanan, pengharapan, kepercayaan, dan begitu banyak hal indah lainnya.

dengan mencintai, kita bisa membagi cinta ini dengan yang lain. membagi kebahagiaanya, membagi keindahannya, membagi kasihnya.
hmmm... indahnya mencintai..
suatu hal yang saat ini kurindukan kehadirannya..

SARASDEWI - Lembayung Bali


Menatap lembayung di langit Bali

dan kusadari

betapa berharga kenanganmu

Di kala jiwaku tak terbatas

bebas berandai memulang waktu



Hingga masih bisa kuraih dirimu

sosok yang mengisi kehampaan kalbuku

Bilakah diriku berucap maaf

masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu

oh cinta



Teman yang terhanyut arus waktu

mekar mendewasa

masih kusimpan senda tawa kita

kembalilah sahabat lawasku

semarakkan keheningan lubuk



Hingga masih bisa kurangkul kalian

sosok yang mengaliri cawan hidupku

Bilakah kita menangis bersama

tegar melawan tempaan semangatmu itu

oh jingga



Hingga masih bisa kujangkau cahaya

senyum yang menyalakan hasrat diriku

Bilakah kuhentikan pasir waktu

tak terbangun dari khayal keajaiban ini

oh mimpi



Andai ada satu cara

tuk kembali menatap agung surya-Mu

lembayung Bali

buku: AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN

Judul                   : AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN 
Penulis : Ihsan Abdul Qudus
Edisi : I, Desember 2005
Ukuran : 12,5 cm x 20 cm
Tebal : 248 Halaman
Harga : Rp.28.000,-
Penerbit : Alifia Books
ISBN : 979-99803-2-1
Seri : Wanita Mulia

Setiap orang memiliki dua sisi
Satu untuk orang lain
Satu untuk dirinya sendiri
Adalah Mustahil menyatukan keduanya

(Ihsan)

Kisah tentang perempuan yang telah menggapai ambisinya, menjadi
seorang politisi sukses. Kiprah dalam parlemen dan pelbagai organisasi
pergerakan perempuan menempatkan dirinya dalam lingkar elit kekuasaan.
Latar belakang politik yang masih konservatif saat itu menjadikannya
sebuah fenomena baru dalam isu kesadaran jender. Akan Tetapi,
kehampaan menyelimuti kehidupan pribadinya dan hampir membuat jiwanya
tercerabut. Kegagalan demi kegagalan mendera, bahkan anak tunggal
yang dianggap sebagai harta paling berharga yang dimilikinya, lebih
akrab dengan sang ibu tiri.

Hingga suatu hari, ia memutuskan lari dari kehidupan pribadinya.
Bahkan berusaha lari dari sisi perempuannya. Lari ke dalam ambisi dan
karir. Dalam usia lima puluh lima tahun ia membunuh kebahagiaannya
sebagai perempuan. Ia melakukan apa saja untuk melupakan bahwa ia
adalah perempuan.

Novel luar biasa, yang mengisahkan tentang pergumulan karir, ambisi
dan cinta dalam bahasa sederhana dan mengesankan. Kaya muatan filsafat
dan menarik untuk diikuti. Tuntutan kesetaraan jender yang dikemas
dalam pertentangan batin seorang perempuan, menjadikan novel ini bukan
sekedar bacaan yang memberikan inspirasi tetapi juga contoh bagi
perjuangan perempuan melawan dominasi di sekelilingnya

rezeki















Bagi setiap hamba Allah, musibah apapun yang terjadi pada
dirinya akan selalu diambil hikmahnya, akan disikapi
dengan cara yang benar, betapa pun pahitnya, betapa pun
berat dan sakitnya. Dengan penyikapan yang benar yakni
bersabar dan ikhlas, tentu akan mendatangkan pahala. Dan
sebaliknya, penyikapan yang salah akan mendapatkan dua
kerugian sekaligus, yaitu kerugian musibah serta kerugian
dosa. Musibah tidak hilang, sementara dosa pasti
bertambah.



Saudaraku... Demikian juga ketika rejeki yang saat ini
mungkin sedang tertunda, mari kita sikapi dengan benar,
dengan sabar sambil berintropeksi. Barangkali ini adalah
teguran atas kesalahan kita sendiri. Mungkin pada waktu
rejeki kita lancar, kita tidak sempat mengaji ke majelis
ta’lim karena terlalu sibuk, kita sering malas
ibadah, atau kita lupa tidak mensyukuri nikmatNya.

Saudaraku... Mungkin karena hal itu, Allah menegur kita
dengan mempersempit atau menunda rejeki. Jika perkara
ibadah kita sudah bagus, barangkali karena semangat kerja
dan keterampilan kita masih sangatlah rendah hingga kalah
bersaing. Dalam hal ini, Allah ingin mengingatkan
sekaligus memovitasi agar kita terus belajar dan belajar
serta menambah keterampilan, kemudian memacu semangat
berusaha dan disiplin serta bekerja keras.

Saudaraku... Dengan cara menunda rejeki ini, rupanya Allah
memberikan pengajaran dan pembinaan kepada kita. Oleh
karena itu, apapun yang terjadi pada diri kita, sebaiknya
penyikapan kita atas apa yang terjadi haruslah dengan
sikap yang positif. Ingatlah, Allah selalu memberikan yang
terbaik bagi hambaNya.
"zamroni"

Sunday, January 22, 2006

time to learn..


time to learn..

saat 'tuk belajar...
belajar memahami diri kita..
belajar memahami keadaan..
belajar 'tuk trus belajar.. tak kenal lelah

belajar saat ini juga..
sampai saat kan berakhir..

ungkap, buka, bagi

saat kita merasa perlu untuk mengungkapkan perasaan ini
kepada siapa kita mengungkapnya...
apa yang akan kita ungkapkan..

saat kita siap 'tuk membuka hati ini..
kepada siapa kita bisa membukanya...

saat kita siap 'tuk membagi rasa ini...
apa dan kepada siapa ...

saat terasa susah 'tuk coba mengungkap.. membuka... dan membaginya...
saat merasa ragu kepada siapa kita kan membaginya...

:)

ternyata...
Dia selalu ada di dekat kita..
tempat teraman 'tuk mencurahkan segala isi hati kita..
tempat bernaungnya smua asa..

menikmati perjalanan itu...


menikmati perjalanan itu sangat menyenangkan


kadang hepy...
kadang sad..
kadang kuciwa..
kadang pengen marah...
kadang pengen membenci...
kadang bosan..
sungguh beraneka ragam


setiap kita merasa senang, bahagia, hepy
rasa itu yg memberikan semangat
tapi ketika kita merasa sedih, kecewa, marah, benci...
dapatkah kita menyikapinya ...
membuatnya menjadi sesuatu yang indah...


sangat menyenangkan bukan....

belajar pada bunga


mawar merah melambangkan rasa berani
mawar putih menandakan kesucian
kelopaknya tersusun rapi n terlihat indah
begitupun jika kita bisa menata rasa ini, akan terlihat indah :)


melati
lati(jw) = lidah ,
kita harus berhati2 dalam berucap dan hendaknya setiap ucapan mengandung suatu kebaikan


hmmm... palagi yahhh
duhh lupa


idup cm sekali klo kita sia2kan kan mubazir ^_^
lakukan yg terbaik 'tuk menjalaninya

Ketika Usia Kita Makin Dewasa

Ketika Usia Kita Makin Dewasa

Ditulis oleh Dewan Asatidz
قال رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي وعلى والدي وأن أعمل صالحا ترضه وأصلح لي في ذريتي إني تبت إليك وإني من المسلمين (الأ حقاف:15)

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, serta untuk mengerjakan amal sholeh yang Engaku ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak-cucuku. Sungguh aku bertobat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri.” al-Ahqaf (QS 46:15)

Ayat di atas adalah do’a kesadaran akan hakikat hidup yang diajarkan Allah kepada manusia bila mencapai umur 40-an tahun.

Inilah do’a sarat makna yang penuh keterbukaan dan kesadaran akan peran masa lalu (orang tua), masa kini (diri kita sendiri), dan harapan masa depan (anak-cucu). Inilah do’a keselamatan setelah menjalani hidup hingga cukup bekal pengalaman serta berkesempatan untuk menata ulang setelah melihat tantangan proyeksi dirinya di masa depan. Inilah do’a penuh permohonan, penuh kesyukuran, dan penuh pertobatan yang perlu dilantunkan secara khusyuk, intim, dan sepenuh jiwa oleh siapa pun yang punya kesadaran akan umur, posisi, peran, peluang, serta hakikat kehidupannya.

Sungguh ketika seseorang menapaki usia yang ke-40 telah sampailah ia pada fase kearifan hidup. Puncak fase fisik sudah dilampauinya, simpang jalan kehidupan sudah diketahuinya, derita dan bahagia sudah dialaminya, serta jalur, rambu, dan lapis-lapis kehidupan sudah transparan bagi mata batinnya. Pada usia ini, seseorang sudah bisa mengukur secara tepat kekuatan dan kelemahan dirinya, tinggallah kemudian mana pilihan jalan yang akan diteruskanya. Persoalan kehidupan sudah semakin kelihatan berat dan bukan lagi fase fisik, bukan lagi fase coba-coba, melainkan fase kearifan hidup.

Ahli tafsir ada yang menyebutkan bahwa do’a seperti pada ayat di atas diucapkan oleh Abu Bakar As-Shidiq ra ketika kedua orangtuanya menyatakan masuk Islam. Dan, do’a itu masih dilantunkannya setiap hari hingga seluruh anggota keluarga Abu Bakar yang lain masuk Islam. Sedangkan oleh Talhah bin Masyraf kepada Abu Ma’syar ketika dia mengadukan kenakalan anaknya agar anaknya menjadi orang-orang sholeh dan sholehah.

Dua kata kunci pada do’a ini adalah ‘syukur’ dan ‘taubat’. Hakikat syukur adalah penegasan pengakuan diri akan nikmat yang telah diterimanya serta ungkapan rasa terima kasih kepada Allah atas segala kebaikan-Nya. Sementara inti tobat adalah saling ‘berbuat kebaikan’ antara manusia dengan Allah. Dimulai dari manusia yang ‘berbuat kebaikan’ dengan penyesalan kemudian dibalas oleh Allah ‘berbuat kebaikan’ dengan pengampunan dan pemberian rahmat-Nya serta manusia bertobat lantas Allah mengampuninya. Inilah hubungan mesra dan bermakna hakiki antara mahluk dan kholik.

Di zaman yang serba mengkhawatirkan seperti sekarang ini, ketika tantangan dan godaan hidup tidak lagi ringan, sudah selayaknya kita lakukan ikhtiar batin dengan berdo’a dan munajat selain ikhtiar lahir dengan fisik dan pikiran.

Insya Allah dengan laku syukur dan laku taubat, seluruh keluarga kita bisa selamat meniti jalan kehidupan, menapak duniawi sehingga bisa mencapai khusunul khotimah. Amin.

Pada akhirnya, mari bersama kita renungkan perjalanan kita di persinggahan ini. Hari berganti hari. Berganti hari, berarti kian dekat pada saat akhir hidup kita. Di dunia ini kita hanya mampir. Bukankah sudah banyak orang yang hidup sebelum kita, yang kini mereka kembali ke asal, menjadi tulang belulang.

Di depan kita, sudah banyak generasi muda yang kini hidup untuk menggantikan kita. Lalu kita mau ke mana, mau ke mana, kita pasti mati, mati adalah tempat mutasi kita yang terakhir. Kita pasti akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan. Sebanyak apa pun harta yang kita miliki tak akan bisa menolak kematian kita. Sehebat apa pun kekuasaan yang kita genggam, tak akan bisa menghalau kematian walau satu detik, walau kita kuat dan perkasa.

Oleh: Ustadz Shahid Tajuddin